Minggu, 17 Juni 2012

Puisi

 Pertanyaan dalam hati

Terkadang aku berfikir,
cinta hanya akan membuat luka.
Aku rasakan itu,
hingga air mata ku menetes,
merasakan betapa kejamnya cinta,
hingga membuatku terasa mati,
membuatku berfikir,
bahwa hidup ku tak berarti lagi.

Namun terkadang aku merasakan,
karena cinta aku bahagia,
cinta pula aku dapat teertawa,
tertawa bahagia.
Hingga aku merasa tak ingin jauh dari cinta.
Namun, apakah aku harus tetap bertahan,
mempertahankan cinta ini?
Apakah aku harus tetap mencintainya?
Sampai kapan aku mencintainya?

Ku rasakan akhir cinta ku,
detik-detik berakhirnya cinta,
yang membuatku meneteskan air mata.
Yang membuatku merasa takut,
takut akan kehilangan cintaku.
Hingga membuat hati ini tak tenang.

Puisi


Kapan?

Di malam yang sunyi
Ku sendiri
Tak seorang pun yang menemani
Hanya bisa diam, diam, dan diam
Menatap langit yang gelap
Seolah mengerti apa yang aku fikirkan
Merenungi kehidupan ini yang penuh teka-teki
Membuat kepala ku terasa ingin pecah

Muncul pertanyaan dalam hati
Kapan dunia ini berakhir?
Kapan hidup ini berakhir?
Kapan aku akan berakhir?
Kapan aku menemukan jawabannya?
Dimana jawaban itu sekarang?
Bagaimana jawaban itu?

Ku lihat pepohonan dan rerumputan
Bergerak diterpa angin malam
Meliuk-liuk, melambai-lambai
Seolah mereka tahu jawabannya
Namun, ku tak dapat mendengarnya
Angin malam pun menyapa kulit ku
Membelai rambutku
Seolah ia ingin menjawabnya
Lagi-lagi aku tidak dapat mendengarnya

Aku terhanyut dalam lamunan
Hingga terasa kosong dalam fikiran
Lama ku diam
Lalu ku rasakan sesuatu datang padaku
Mendekat...
Semakin dekat ia...
Lalu berbisik
“Berawal hidup dan berakhir mati”
“Tak pandang bulu”
“Siapa yang bernyawa”